Langit jakarta berwarna abu-abu
Butiran air turun tanpa bisa dicegah
Kilatan petir seolah memotret kelakuan kaum metropolis
Kuurungkan niat melawan air hujan yang mengeroyok
Laju motor kuhentikan di sebuah halte yang tak jauh dari kampusku
Untuk sejenak berteduh menunggu air hujan puas menumpahkan bumi
Ternyata aku tak sendiri di halte yang tidak terawat ini
Pedagang asongan yang sedang menahan kantuk.
Anak kecil penjual koran yang sibuk menghitung uang receh
Dan...
Seorang wanita yang nampak basah kuyup, sedang duduk sambil menyilangkan tangannya di dada.
Umurnya mungkin sebaya denganku
Rambutnya panjang, kulitnya putih.
Dan tahi lalat yang menempel indah dibawah bibir merah
Sepertinya ia sedang kedinginan
Aku berjalan ke pedagang asongan yang kaget karena terkena percikan air dari kendaraan yang lewat
Tetap dengan sopan ia menerima tiga lembar uang ribuan dan menukarkannya dengan dua botol minuman ringan.
“Minum dulu mbak”, kataku sambil menyodorkan sebotol minuman ringan kepada wanita yang duduk tadi.
Dengan sedikit kaget dan memandangku aneh, ia berkata “ehh.. gak mas. Terima kasih”
“Ambillah mbak,lumayan bisa sedikit menghangatkan badan. Gak aku kasi macem-macem kok, masih murni”. Mungkin ia mengira aku akan memberinya minuman yang sudah diberi obat penenang atau obat apalah yang bisa membuat ia tak sadarkan diri.
Wanita itu terdiam sejenak.
“Terima kasih”, sahutnya pelan sambil meraih botol minuman yang ada di tanganku.
Lalu aku duduk di sampingnya dan tanpa dikomando kami berdua mulai menikmati setiap tegukan minuman ringan tersebut.
“Mau kemana mbak?”, tanyaku
“Mau pulang kerumah”, jawabnya sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa dingin
“Ohh.. rumahnya di daerah mana?”
“Di bendungan hilir”
“Wah jauh sekali. Mbak darimana?”
“Dari pulang kuliah”
“Oh.. kampusnya dimana?”
“Disitu”, jawabnya sambil menunjuk ke arah selatan halte.
“Lah, saya juga kuliah disitu mbak. Wah berarti kita satu kampus dong. Oh ya, perkenalkan. Namaku Mahendra.” Kataku sambil mengulurkan tangan.
“Namaku Fera”. Sambil dengan pelan ia menyambut uluran tanganku.
“Salam kenal ya. Kamu asli Jakarta Ra?”, tanyaku
“Iya”
“Di Jakarta tinggal dengan siapa?”
“Tinggal dengan Ibu dan kakak”
Suara air hujan yang menghujam atap halte perlahan-lahan hilang.
“Sudah agak reda nih hujannya. Aku duluan yah. Makasih ya minumannya tadi” Kemudian wanita itu berdiri dan berjalan pelan ke arah motornya.
“Oh ok. Hati-hati ya. Sampai jumpa”. Kataku dengan sedikit kecewa.
Langit sudah kehabisan air untuk membasuh bumi, yang berarti harus berakhir juga perbincanganku dengan Fera. Arrgghh, baru kali ini aku benci dengan hujan yang berhenti.
*
Hari ini jadwal kuliahku padat sekali.
Dari pagi sampai sore.
Sebuah kewajiban yang berat tapi harus aku jalani.
Dan sore ini Jakarta yang biasanya panas, memaksa penghuninya untuk berlomba-lomba mencari tempat agar baju mahal mereka tidak basah kuyup.
Halte tak terawat kembali menjadi pilihanku untuk berteduh.
Tak lama sebuah sepeda motor berhenti di depanku
Pengendara sepeda motor itu turun dari motornya dan langsung duduk di sebelahku
“Fera??!”, Kataku setengah kaget ketika melihat pengendara sepeda motor itu membuka helmnya.
“Eh.. halo Ndra.” Sahut pengendara sepeda motor tadi yang ternyata adalah Fera, wanita yang aku kenal dua hari lalu ketika berteduh di halte ini.
“Kamu habis kuliah Ra?” tanyaku
“Yap. Hujan terus nih.” jawab Fera sambil mengelap rambutnya yang basah
“Iyah. Eh kamu kemana-mana sendirian? Ga dianter Ibu atau kakak kamu?”
“Yaelah, aku dah gede kali Ndra. Kalau bisa dikerjain sendiri ngapain butuh bantuin orang lain.”
“Ga bareng kakak kamu?”
“Kakakku kerja di perusahaan pembiayaan yang kantornya ga di daerah sini. Kalau ibuku menjahit di rumah”
“Oh.. begitu”
“Iya, Mama dan kakakku harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup kami dan membiayai kuliahku. Kalau sedang libur aku membuat coklat dan aku titipkan di Kantin kampus” jelasnya sedikit curhat
“Trus Papa kamu kemana?” tanyaku lagi
Fera terdiam sejenak. Raut wajahnya sedikit berubah
“Papa menikah lagi dengan perempuan lain”, jawabnya lirih
“Oh.. maaf ya kalo kamu jadi teringat dengan kejadian yang lalu”
“Gak papa kok. Eh kamu mau minum? Aku yang traktir deh kali ini.”, tanyanya sambil memanggil pedagang asongan yang duduk tak jauh dari tempat kami.
“Boleh deh”, jawabku
Aku memandangi Fera yang sedang membeli minuman ringan.
Ia cantik
Dan rambut basahnya itu membuatnya semakin menarik
“Hei, kenapa kamu melihatku seperti itu?”, tanya Fera sambil memberikan sebotol minuman ringan
“Oh eh, gak papa kok. Kamu sudah punya pacar?”, jawabku sedikit gugup
“Hah?! Kenapa kamu tanya gitu?”. Tanya Fera sedikit kaget
“Ya gak papa, heran aja cewek secantik kamu kemana-mana sendirian. Kehujanan kepanasan”, jawabku enteng
“Yee, emang gak boleh apa. Aku tuh ga punya pacar. Jadi kemana-mana bebas.”, jawabnya sambil memukul pelan lenganku.
“Ohh.. kirain. Padahal cewek secantik kamu gampang lho dapet cowok. Mau yang mana aja tinggal pilih deh”
“Ah, gak juga. Percuma juga kalau punya cowok tapi hanya main-main. Buang-buang waktu. Nah trus kalau kamu gimana? Sepertinya kamu tipe-tipe yang banyak disukai wanita”
“Hmm.. ya sih. Lagi laris nih aku. Banyak banget yang ngejar-ngejar aku. Ada lima orang”, kataku sambil tersenyum kecil
“Hueek.. iya gitu lima orang?! Tapi bencong semua ya?” Kata Fera
“Enak aja!” kataku sambil memukul pelan lengannya yang basah.
Dan kali ini kerasnya suara air hujan yg menghujam atap halte terpaksa menyerah dengan kerasnya suara tawa kami berdua.
Tubuh kami pun seolah kebal dengan dingin yang menyengat
Ah.. jangan hentikan air hujan ini wahai langit
Aku masih ingin mendengar tawa renyah Fera.
*
Aku dan Fera selalu bertemu di halte ini
Namun sudah beberapa kali aku berteduh, aku tidak bertemu dengan Fera.
Kemana dia??
Aku sudah mencoba mencarinya di kampus tapi tidak menemui hasil
Hujan sudah reda.
Aku masih duduk di halte ini.
Mungkin hari ini aku beruntung bisa bertemu dengan Fera.
Aku kangen dengan senyum dan tawa renyahnya
Tak lama, Akbar teman sekampusku menghampiri sambil menepuk bahuku.
“Hei Bro! Ngapain lu bengong disini??”
“Oh, eh. Berteduh bro, hujan deres banget tadi.” Jawabku sedikit kaget.
“Oh, eh lu udah liat video mesum yang lagi heboh di kampus kita?”, tanya Akbar pelan
“Hah? Belum. Video mesum apa?”, tanyaku penasaran
“Salah satu mahasiswi kampus kita bro. Tapi aku ga tau siapa dia. Kurang terkenal kayaknya. Aku ada videonya nih. Bentar ya”. Jawab Akbar sambil mengeluarkan handphone buatan china yang modelnya mirip dengan salah satu smartphone yang lagi trend.
“Nih.. nih. coba lihat” , katanya sambil memperlihatkan video yang diputar di layar hp nya.
Lalu aku perhatikan video berdurasi dua menit itu dengan seksama.
Terlihat pria dan wanita sedang melakukan adegan yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Si wanita mendominasi di video itu, dan... eh.. wajah wanita itu. Tahi lalat itu?
“Anjritt! Ini kan Fera!!”
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
07 Juni 2010
21 April 2010
Oentoek Negeri dan Adindakoe
Tangan keriputnya memegang selembar foto hitam putih yang nampak usang dan terlipat.
Foto bergambar seorang laki-laki berperawakan tinggi, gagah, berpakaian tentara perjuangan tempo dulu, memegang senjata laras panjang, lengkap dengan bendera merah putih yang terikat di lengan kanannya.
Dibelakang lembaran foto itu terdapat tulisan tangan yg sudah agak luntur, namun masih bisa terbaca jelas : "oentoek adindakoe".
Lelehan air mata mulai membasahi pipi tirus perempuan tua itu.
Nampaknya foto tersebut meninggalkan sebuah kenangan yang begitu berarti baginya.
Apakah karena sosok laki-laki yang ada di foto itu?
Siapa laki-laki itu?
Perempuan tua itu mencoba mengingat dan menceritakan tentang laki-laki yang ada di dalam foto tersebut....
............
Tahun 1942.
Laki-laki itu sering datang ke tokoku.
Toko kelontong yang letaknya bersebelahan dengan markas tentara perjuangan.
Dan entah kenapa laki-laki itu selalu datang pada saat giliranku yang menjaga toko.
Suatu siang.
Laki-laki itu sudah berdiri di depan tokoku.
Belum sempat ia berbicara, tanganku menyodorkan sebungkus sabun cuci kepadanya.
Dengan mimik heran ia bertanya, "Darimana kamu tau aku mau beli sabun cuci?"
"Tiap satu minggu sekali kamu pasti membeli sabun cuci. Dan seingatku terakhir kamu membeli sabun cuci adalah hari jum'at minggu yang lalu. Pasti sekarang sabun cucimu sudah habis. nih....", jawabku sambil menyodorkan lagi bungkusan sabun cuci itu kepadanya.
"Wah, selain toko ini lengkap, toko ini juga tau ya kapan aku akan datang lagi ke toko ini.", ujar laki-laki itu sambil mengambil bungkusan sabun cuci yang ada di tanganku.
"yaa, karena kamu sering berbelanja disini, sampai-sampai aku hapal apa yg akan kamu beli."
"Hampir setiap hari aku datang ke toko ini, tapi aku tidak pernah tahu nama kamu. kenalkan, namaku Mahesa." kata laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Namaku Adinda, panggil saja Dinda". jawabku sambil menyalami tangannya.
Itulah awal perkenalanku dengan laki-laki tersebut.
Namanya Mahesa.
Karena seringnya kami bertemu dan berbincang, akhirnya kami saling menyukai dan jatuh cinta.
*
Pada waktu itu tentara Indonesia sedang gencar-gencarnya melakukan perlawanan dengan Belanda.
Dan di sore hari yang gak bisa aku lupakan itu, Mahesa datang dengan wajah letih.
Lalu ia duduk di atas peti tempat menyimpan gandum.
"Besok aku akan berangkat bertempur dinda..", Mahesa memulai pembicaraan sambil menyeka keringat yang ada di wajahnya.
"Bertempur dimana mas?", tanyaku sambil membereskan barang dagangan.
"Aku akan ke markas Belanda yang ada di selatan kota. Pasukan kita sudah terdesak disana. Tidak ada jalan lain selain menghancurkan markas Belanda tersebut."
Aku berhenti membereskan dagangan dan berjalan menuju ke tempat Mahesa duduk.
"Hati-hati ya mas. sepertinya keadaannya sangat gawat sekali." kataku sambil membantu membersihkan keringat yang ada di wajah Mahesa.
"Aku akan baik-baik saja Dinda. Aku sudah terlatih untuk menghadapi keadaan yang gawat. Demi negara ini, aku rela melakukan apa saja!"
Semenjak berkenalan dengan Mahesa, baru kali ini aku akan ditinggal bertempur.
Aku berdoa semoga dia dan pasukannya akan baik-baik saja, dan membawa kabar baik buat negara ini.
*
Pagi itu sebelum berangkat, Mahesa datang ke tokoku.
Ia tampak gagah sekali dengan seragam tentaranya.
"Dinda, aku berangkat ya. Doakan kami supaya bisa mengalahkan Belanda dan kembali dengan selamat". kata Mahesa memegang bahuku dengan kedua tangannya.
Dengan sedikit menahan tangis aku berkata, "Iya mas, semoga semua baik-baik saja. hati-hati ya mas. Aku akan selalu menunggu kepulanganmu dengan membawa kabar baik."
"Aku pasti akan pulang Dinda, aku akan kalahkan Belanda itu. Aku akan melakukan apa saja demi negeri ini!"
Lalu ia memelukku..
Air mata itu pun tak bisa lagi aku tahan.
"Oh ya Dinda, aku ingin memberimu ini.", Mahesa mengeluarkan selembar foto dari kantong bajunya dan memberikannya kepadaku.
Foto dirinya berpakaian seragam tentara lengkap, dengan bendera merah putih terikat di lengan yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Aku akan menunggumu mas. hati-hati.."
*
Sudah satu minggu semenjak kepergian Mahesa bertempur.
Dan sudah satu minggu tidak ada kabar tentang ia dan pasukannya.
Aku pun sudah mencoba mendatangi markas tentara perjuangan yang ada di sebelah tokoku, namun tak ada satupun kabar berita yang bisa aku dapatkan.
Hingga pada suatu sore aku melihat lima orang tentara perjuangan datang.
Pakaian mereka tampak sangat lusuh dan kotor.
Ada dua orang dari mereka yang terpaksa dipapah karena kakinya terluka.
Bukankah itu tentara yang berangkat bersama-sama Mahesa? Mereka sudah kembali, tapi kenapa hanya berlima? Kemana Mahesa?
Aku lalu bergegas lari menuju rombongan tentara tersebut. Toko pun aku tinggalkan begitu saja.
Dengan nafas yang masih terengah-engah aku bertanya kepada mereka, "Dimana Mahesa??!!"
Mereka diam, dan saling melihat satu sama lain.
Lalu salah seorang dari mereka berkata, "Dinda. Kami berhasil mengalahkan Belanda dan menguasai markas mereka. Dan kalau tanpa pengorbanan Mahesa, mustahil kami bisa ada disini dan mengabarkan berita baik ini."
"Maksudnya??!!", aku bertanya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Begini ceritanya. Saat itu kami berhasil mendesak mundur pasukan Belanda ke dalam markasnya. Tetapi tiba-tiba pasukan Belanda membalas dengan rentetan tembakan. Dan celakanya, persediaan amunisi kami sudah hampir habis dan tidak mungkin lagi untuk membalas tembakan pasukan Belanda tersebut. Lalu Mahesa menghampiriku dan berkata bahwa ia masih mempunyai dua buah granat dan itu cukup untuk menghancurkan markas Belanda tersebut. Tapi karena posisi kami yang agak jauh, sehingga kalaupun granat itu kami lempar, tidak akan bisa sampai ke dalam markas Belanda. Kemudian Mahesa berkata bahwa ia akan lari masuk ke dalam markas lalu meledakkan granat itu di depan pasukan Belanda. Kami kaget dan sempat melarangnya, tetapi ia tetap bersikukuh bahwa hal itu harus ia lakukan. Karena tinggal selangkah lagi untuk mengalahkan dan menguasai markas Belanda. Ia sempat berkata kepadaku, bahwa ia akan melakukan apa saja demi negara ini. Kemudian Mahesa menyelinap masuk ke dalam markas dan kami sempat mendengar rentetan tembakan dari dalam dan tak lama kemudian markas tentara Belanda itu meledak dan hancur berkeping-keping. Semua tentara Belanda mati akibat ledakan tersebut. Lalu kami masuk dan menemukan tubuh Mahesa yang hancur. Kami tidak tahu harus senang atau sedih dengan kejadiani ini. Maafkan kami Dinda, kami tidak bisa mencegahnya."
..............
Perlahan-lahan perempuan tua itu berdiri dari kursi rotan pemberian tetangganya.
Ia melangkah pelan menuju ke dalam kamar tidur.
Sepasang kaki jenjang yang dulu kuat berjalan puluhan kilometer terlihat masih cukup kuat menopang badan kurusnya.
Tak lama kemudian perempuan tua itu keluar dengan membawa sebuah kotak kecil.
Kotak yang sudah ia simpan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Dibukanya kotak berwarna kecoklatan yang sudah agak lapuk itu, lalu ia mengeluarkan isinya.
Selembar bendera merah putih yang tampak lusuh dan berwarna kecoklatan.
Bendera itulah yang dipakai di lengan kanan laki-laki yang ada di dalam foto tadi.
Diciumnya bendera lusuh itu.
Lalu ia kembali menangis.
Sampai saat ini perempuan tua itu hidup seorang diri.
Ia tidak mempunyai suami, apalagi mempunyai anak.
Menurutnya, ia hidup dengan cinta sejati.
Dan ia bangga dengan cinta sejatinya itu.
**
Title : Oentoek Negeri dan Adindakoe
Release Free : 17 Agustus 2009
Foto bergambar seorang laki-laki berperawakan tinggi, gagah, berpakaian tentara perjuangan tempo dulu, memegang senjata laras panjang, lengkap dengan bendera merah putih yang terikat di lengan kanannya.
Dibelakang lembaran foto itu terdapat tulisan tangan yg sudah agak luntur, namun masih bisa terbaca jelas : "oentoek adindakoe".
Lelehan air mata mulai membasahi pipi tirus perempuan tua itu.
Nampaknya foto tersebut meninggalkan sebuah kenangan yang begitu berarti baginya.
Apakah karena sosok laki-laki yang ada di foto itu?
Siapa laki-laki itu?
Perempuan tua itu mencoba mengingat dan menceritakan tentang laki-laki yang ada di dalam foto tersebut....
............
Tahun 1942.
Laki-laki itu sering datang ke tokoku.
Toko kelontong yang letaknya bersebelahan dengan markas tentara perjuangan.
Dan entah kenapa laki-laki itu selalu datang pada saat giliranku yang menjaga toko.
Suatu siang.
Laki-laki itu sudah berdiri di depan tokoku.
Belum sempat ia berbicara, tanganku menyodorkan sebungkus sabun cuci kepadanya.
Dengan mimik heran ia bertanya, "Darimana kamu tau aku mau beli sabun cuci?"
"Tiap satu minggu sekali kamu pasti membeli sabun cuci. Dan seingatku terakhir kamu membeli sabun cuci adalah hari jum'at minggu yang lalu. Pasti sekarang sabun cucimu sudah habis. nih....", jawabku sambil menyodorkan lagi bungkusan sabun cuci itu kepadanya.
"Wah, selain toko ini lengkap, toko ini juga tau ya kapan aku akan datang lagi ke toko ini.", ujar laki-laki itu sambil mengambil bungkusan sabun cuci yang ada di tanganku.
"yaa, karena kamu sering berbelanja disini, sampai-sampai aku hapal apa yg akan kamu beli."
"Hampir setiap hari aku datang ke toko ini, tapi aku tidak pernah tahu nama kamu. kenalkan, namaku Mahesa." kata laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Namaku Adinda, panggil saja Dinda". jawabku sambil menyalami tangannya.
Itulah awal perkenalanku dengan laki-laki tersebut.
Namanya Mahesa.
Karena seringnya kami bertemu dan berbincang, akhirnya kami saling menyukai dan jatuh cinta.
*
Pada waktu itu tentara Indonesia sedang gencar-gencarnya melakukan perlawanan dengan Belanda.
Dan di sore hari yang gak bisa aku lupakan itu, Mahesa datang dengan wajah letih.
Lalu ia duduk di atas peti tempat menyimpan gandum.
"Besok aku akan berangkat bertempur dinda..", Mahesa memulai pembicaraan sambil menyeka keringat yang ada di wajahnya.
"Bertempur dimana mas?", tanyaku sambil membereskan barang dagangan.
"Aku akan ke markas Belanda yang ada di selatan kota. Pasukan kita sudah terdesak disana. Tidak ada jalan lain selain menghancurkan markas Belanda tersebut."
Aku berhenti membereskan dagangan dan berjalan menuju ke tempat Mahesa duduk.
"Hati-hati ya mas. sepertinya keadaannya sangat gawat sekali." kataku sambil membantu membersihkan keringat yang ada di wajah Mahesa.
"Aku akan baik-baik saja Dinda. Aku sudah terlatih untuk menghadapi keadaan yang gawat. Demi negara ini, aku rela melakukan apa saja!"
Semenjak berkenalan dengan Mahesa, baru kali ini aku akan ditinggal bertempur.
Aku berdoa semoga dia dan pasukannya akan baik-baik saja, dan membawa kabar baik buat negara ini.
*
Pagi itu sebelum berangkat, Mahesa datang ke tokoku.
Ia tampak gagah sekali dengan seragam tentaranya.
"Dinda, aku berangkat ya. Doakan kami supaya bisa mengalahkan Belanda dan kembali dengan selamat". kata Mahesa memegang bahuku dengan kedua tangannya.
Dengan sedikit menahan tangis aku berkata, "Iya mas, semoga semua baik-baik saja. hati-hati ya mas. Aku akan selalu menunggu kepulanganmu dengan membawa kabar baik."
"Aku pasti akan pulang Dinda, aku akan kalahkan Belanda itu. Aku akan melakukan apa saja demi negeri ini!"
Lalu ia memelukku..
Air mata itu pun tak bisa lagi aku tahan.
"Oh ya Dinda, aku ingin memberimu ini.", Mahesa mengeluarkan selembar foto dari kantong bajunya dan memberikannya kepadaku.
Foto dirinya berpakaian seragam tentara lengkap, dengan bendera merah putih terikat di lengan yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Aku akan menunggumu mas. hati-hati.."
*
Sudah satu minggu semenjak kepergian Mahesa bertempur.
Dan sudah satu minggu tidak ada kabar tentang ia dan pasukannya.
Aku pun sudah mencoba mendatangi markas tentara perjuangan yang ada di sebelah tokoku, namun tak ada satupun kabar berita yang bisa aku dapatkan.
Hingga pada suatu sore aku melihat lima orang tentara perjuangan datang.
Pakaian mereka tampak sangat lusuh dan kotor.
Ada dua orang dari mereka yang terpaksa dipapah karena kakinya terluka.
Bukankah itu tentara yang berangkat bersama-sama Mahesa? Mereka sudah kembali, tapi kenapa hanya berlima? Kemana Mahesa?
Aku lalu bergegas lari menuju rombongan tentara tersebut. Toko pun aku tinggalkan begitu saja.
Dengan nafas yang masih terengah-engah aku bertanya kepada mereka, "Dimana Mahesa??!!"
Mereka diam, dan saling melihat satu sama lain.
Lalu salah seorang dari mereka berkata, "Dinda. Kami berhasil mengalahkan Belanda dan menguasai markas mereka. Dan kalau tanpa pengorbanan Mahesa, mustahil kami bisa ada disini dan mengabarkan berita baik ini."
"Maksudnya??!!", aku bertanya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Begini ceritanya. Saat itu kami berhasil mendesak mundur pasukan Belanda ke dalam markasnya. Tetapi tiba-tiba pasukan Belanda membalas dengan rentetan tembakan. Dan celakanya, persediaan amunisi kami sudah hampir habis dan tidak mungkin lagi untuk membalas tembakan pasukan Belanda tersebut. Lalu Mahesa menghampiriku dan berkata bahwa ia masih mempunyai dua buah granat dan itu cukup untuk menghancurkan markas Belanda tersebut. Tapi karena posisi kami yang agak jauh, sehingga kalaupun granat itu kami lempar, tidak akan bisa sampai ke dalam markas Belanda. Kemudian Mahesa berkata bahwa ia akan lari masuk ke dalam markas lalu meledakkan granat itu di depan pasukan Belanda. Kami kaget dan sempat melarangnya, tetapi ia tetap bersikukuh bahwa hal itu harus ia lakukan. Karena tinggal selangkah lagi untuk mengalahkan dan menguasai markas Belanda. Ia sempat berkata kepadaku, bahwa ia akan melakukan apa saja demi negara ini. Kemudian Mahesa menyelinap masuk ke dalam markas dan kami sempat mendengar rentetan tembakan dari dalam dan tak lama kemudian markas tentara Belanda itu meledak dan hancur berkeping-keping. Semua tentara Belanda mati akibat ledakan tersebut. Lalu kami masuk dan menemukan tubuh Mahesa yang hancur. Kami tidak tahu harus senang atau sedih dengan kejadiani ini. Maafkan kami Dinda, kami tidak bisa mencegahnya."
..............
Perlahan-lahan perempuan tua itu berdiri dari kursi rotan pemberian tetangganya.
Ia melangkah pelan menuju ke dalam kamar tidur.
Sepasang kaki jenjang yang dulu kuat berjalan puluhan kilometer terlihat masih cukup kuat menopang badan kurusnya.
Tak lama kemudian perempuan tua itu keluar dengan membawa sebuah kotak kecil.
Kotak yang sudah ia simpan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Dibukanya kotak berwarna kecoklatan yang sudah agak lapuk itu, lalu ia mengeluarkan isinya.
Selembar bendera merah putih yang tampak lusuh dan berwarna kecoklatan.
Bendera itulah yang dipakai di lengan kanan laki-laki yang ada di dalam foto tadi.
Diciumnya bendera lusuh itu.
Lalu ia kembali menangis.
Sampai saat ini perempuan tua itu hidup seorang diri.
Ia tidak mempunyai suami, apalagi mempunyai anak.
Menurutnya, ia hidup dengan cinta sejati.
Dan ia bangga dengan cinta sejatinya itu.
**
Title : Oentoek Negeri dan Adindakoe
Release Free : 17 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
